AJI Denpasar Sesalkan Pemberian Grasi Terhadap Otak Pembunuh Wartawan 

banner 160x600

Women faceOtak pembunuh wartawan Radar Bali I Nyoman Susrama digelandang petugas berpakaian preman. (ist)

Denpasar, faktabali.com - Pemberian grasi oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terhadap I Nyoman Susrama yang menjadi otak pembunuh wartawan Radar Bali, Jawa Pos Grup, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa adalah langkah mundur terhadap penegakan kemerdekaan pers.

Padahal pengungkapan kasus pembunuhan wartawan di Bali tahun 2009 silam menjadi tonggak penegakan kemerdekaan pers di Indonesia.
 
"Ini karena sebelumnya tidak ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang diungkap secara tuntas di sejumlah daerah di Indonesia, apalagi dihukum berat," kata Nandang melalui siaran pers tertulis, Selasa (22/1/2019).

Karena itu, vonis seumur hidup bagi Susrama di Pengadilan Negeri Denpasar saat itu menjadi angin segar terhadap kemerdekaan pers dan penuntasan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang masih banyak belum diungkap.

Baca Juga: Keroyok Warga Hingga Babak Belur, Tiga Pemuda Mabuk Digelandang ke Kantor Polisi

Baca Juga: Harapan Kerja di RS Bali Mandara Kandas, Uang 175 Juta Milik Luh Putri Turut Amblas 

AJI Denpasar bersama sejumlah advokat, dan aktivis yang dari awal ikut mengawal Polda Bali tahu benar bagaimana susahnya mengungkap kasus pembunuhan jurnalis yang terjadi pada Februari 2009 silam.

 
"Perlu waktu berbulan-bulan dan energi yang berlebih hingga kasusnya dapat diungkap oleh Polda Bali," ucap Nandang.

Pemberian grasi dari seumur hidup menjadi 20 tahun ini bisa melemahkan penegakan kemerdekaan pers, karena setelah 20 tahun akan menerima remisi hingga kemudian pembebasan bersyarat. Karena itu AJI Denpasar sangat menyayangkan dan menyesalkan pemberian grasi tersebut.

Meski presiden memiliki kewenangan untuk memberikan grasi sesuai diatur UU. No. 22 Tahun 2002 dan Perubahanya UU. No. 5 Tahun 2010 namun seharusnya ada catatan maupun koreksi baik dari Kemenkumham RI dan tim ahli hukum presiden sebelum grasi itu diberikan.

"Untuk itu AJI Denpasar menuntut agar pemberian grasi kepada otak pembunuhan AA Gede Bagus Narendra Prabangsa untuk dicabut atau dianulir," terang Miftahul Huda, Kepala Divisi Advokasi AJI Denpasar menambahkan. (*)

 
Editor : Ray Wiranata