Akbar Tanjung Sebut Penguasa Myanmar Bertindak Ekstrim Terhadap Ethnis Rohingya

banner 160x600

Women faceAkbar Tanjung saat di temui di Gianyar beberapa hari lalu.

Gianyar, faktabali.com - Mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Akbar Tanjung menyatakan, demi rasa kemanusiaan semestinya pemerintah Myanmar memberikan status kewarganegaraan secara resmi kepada etnhis Ronghiya.
 
Hal itu disampaikan Akbar Tanjung menanggapi konflik kemanusiaan di Myanmar yang mengakibatkan ratusan ribu ethnis Ronghiya harus pergi dari negara tersebut.
 
"Justru yang terjadi penguasa di sana bertindak ekstrim. Yang saya maksud penguasa yaitu militernya," ucap Akbar Tanjung saat di temui di Gianyar, Selasa (12/9/2017).
 
Akbar yang juga pernah menjadi ketua DPR RI ini juga menerangkan, meskipun berasal dari Bangladesh, ethnis Rohingya sudah tinggal di Myanmar selama puluhan tahun, dan mungkin bahkan ratusan tahun lalu.
 
"Ini juga sama dengan di Indonesia. Jika ada WNA yang sudah lama tinggal di Indonesia, dan ingin menjadi warga Indonesia, kita terima tanpa melihat darimana asalnya. Yang penting dia mau mengikuti peraturan yang ada di negara kita," jelas Akbar.
 
Akbar juga mengatakan bahwa ia mendukung langkah-langkah yang di ambil pemerintah Indonesia saat ini. Tidak itu saja, ia juga mengaku telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.
 
"Secara kebetulan saya pernah menjadi pengurus HMI. Jadi saya sempat berdiskusi dengan ibu Menlu terkait persoalan ini," terangnya.
 
Tidak hanya memberikan dukungan kepada pemerintah Indonesia, Akbar Tanjung juga mendorong lembaga-lembaga internasional agar turut membantu menyelesaikan konflik di Myanmar.
 
"Kita punya assosiasi ASEAN, kita bisa gunakan itu. Bahkan assosiasi yang lebih mendunia, PBB. Kalau perlu kita memiliki agenda, solusi yang lebih kongkrit membahas masalah itu," ucapnya.
 
Konflik kemanusiaan di Myanmar juga menggugah umat katolik yang ada di Indonesia. Saat menggelar Konferensi Waligereja Indonesia yang di hadiri 80 orang perwakilan keuskupan, Kamis (14/9/2017) di Kuta, Badung, Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau (KKP PMP KWI) menyerukan kepada seluruh gereja di Indonesia membuka tangan dan memberi bantuan kepada pengungsi Rohingya.
 
Sekretaris Eksekutif KKP PMP KWI, Romo Siswantoko mengatakan, gereja katolik berpandangan warga Rohingya adalah sesama manusia, yang mempunyai derajat dan martabat yang sama dengan manusian lainnya.
 
"Gereja katolik prihatin dengan tindakan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap warga Ronghiya yang harus di hargai martabatnya," ucapnya di sela-sela kegiatan.
 
Sebagai wujud keprihatinan, Romo Siswantoko menyerukan kepada gereja-gereja katolik di seluruh Indonesia untuk membuka tangan dan hati kepada pengungsi Rohingya yang datang atau mencari perlindungan di keuskupan.
 
"Dan salah satu contoh yang sudah ringan tangan dengan memberikan bantuan bagi warga Rohingya adalah Gereja Katolik di Aceh," terang Romo Siswantoko.
 
Reporter : Agung Widodo
Editor      : Ray Wiranata