APBDes Diselewengkan, Warga Desa Dauh Puri Kelod Melapor Ke Kejati Bali

banner 160x600

Women faceNyoman Mardika (kanan) membeberkan dugaan penyelewengan dana APBDes Desa Dauh Puri Kelod

Denpasar, faktabali.com - Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) Dauh Puri Kelod, Kecamatan Denpasar Barat tahun anggaran 2017 diselewengkan. Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali tanggal 7 Januari 2019 oleh I Nyoman Mardika, S.S., warga Desa Dauh Puri Kelod.
 
"Saya terpaksa melaporkan kasus tersebut karena tidak ada tindak lanjut dari Inspektorat Kota Denpasar. Padahal, berdasarkan Hasil Pemeriksaan Laporan (HPL) khusus oleh Inspektorat Kota Denpasar bulan Agustus 2018, ditemukan adanya selisih Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun 2017 di Desa Dauh Puri Kelod sebesar kurang lebih Rp900 juta," kata I Nyoman Mardika saat menggelar jumpa pers di Warung Kubu Kopi Denpasar, Senin (21/1/2019).
 
Mardika menjelaskan, penyelewengan anggaran hampir Rp1 miliar tersebut diduga melibatkan tiga oknum perangkat desa yaitu mantan Perbekel, Kaur Perencanaan, dan Bendahara Desa Dauh Puri Kelod.
 
Terungkapnya kasus ini bermula ketika Tim Monitoring dan Evaluasi dari DPMD Pemerintah Kota Denpasar melakukan monitoring dan evaluasi anggaran dari tahun 2012 hingga 2016.
 
Dari hasil monitoring dan evaluasi ditemukan selisih antara Buku Bank dan Laporan realisasi keuangan lebih kurang Rp900 juta dari total anggaran Rp1,8 miliar. Anehnya, temuan penyelewengan anggaran ini tidak dilaporkan ke aparat penegak hukum.
 
"Saat itu mantan Perbekel yang sekarang mencalonkan diri sebagai Caleg sudah mau mengembalikan uang Rp8,5 juta dan Kaur Perencanaan mengembalikan Rp102 juta. Sisanya Rp877 juta sekian masih dipegang Bendahara Desa. Ini yang hingga sekarang belum dikembalikan," kata Nyoman Mardika didampingi tim hukum dari Yayasan Manikaya Kauci.
 
"Saya sendiri memberanikan diri untuk melaporkan kasus penyelewengan dana APBDes meskipun dengan segala resiko yang mungkin akan saya tanggung nantinya. Semua saya lakukan karena tidak ingin kejadian serupa juga terjadi di desa-desa lain," tegas Mardika.
 
Reporter : Agung Widodo
Editor      : Ray Wiranata