Demo Mahasiswa Asal Papua Nyaris Ricuh, Polisi Terjunkan Kendaraan Water Cannon



banner 160x600
Women face

Denpasar, faktabali.com - Puluhan mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) komite kota Bali, Sabtu (30/9/2017) menggelar aksi demo di depan Konjen Amerika Serikat di Jalan Hayamwuruk, Denpasar Timur. 

 
Dalam orasinya, mereka menolak perjanjian di Roma, Italia, pada 30 September 1962 karena menurutnya perjanjian tersebut dilakukan tanpa keterlibatan atau perwakilan dari rakyat Papua.
 
"Perjanjian Roma yang ditandatangani oleh Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat merupakan perjanjian yang kontroversial. Dengan kondisi seperti itu, maka kami menganggap perjanjian Roma ilegal," kata juru bicara aksi, Raymond.
 
Selain menganggap perjanjian Roma ilegal, aksi demo yang di mulai dari pukul 10.00 Wita ini juga menuntut untuk diberikan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat.
 
"Tarik TNI-Polri organik dan non organik dari seluruh tanah Papua dan berikan hak penentuan nasib sendiri kepada kami. Hidup Papua, hidup Papua merdeka," teriak salah seorang pendemo.
 
Suasana sedikit memanas ketika para pendemo mencoba memaksa masuk ke kantor Konjen Amerika. Sambil meneriakkan yel-yel Papua merdeka, mereka terus merangsek dan berusaha menerobos barikade polisi.
 
Satu unit kendaraan Water Cannon milik Dalmas Polresta Denpasar yang sedari awal disiagakan kemudian maju dan bersiap untuk membubarkan aksi.
 
Melalui alat pengeras suara, Kabag Ops Polresta Denpasar Kompol I Wayan Gatra terus berbicara dan meminta kepada para demonstran untuk tidak memaksa masuk ke dalam Konjen.
 
"Kami sudah bicara baik-baik kepada rekan-rekan. Ini obyek nasional dan tidak boleh sembarangan masuk. Tolong mundur, jangan sampai kami bertindak tegas," ucapnya.
 
Meski secara perlahan situasi mulai mereda, petugas kepolisian tidak mau mengambil resiko dan meminta para pendemo untuk segera beralih dari depan kantor Konjen Amerika.
 
Setelah kurang lebih satu setengah jam beraksi di depan Konjen Amerika, aksi kemudian pindah dan dilanjutkan di bundaran Renon. "PBB harus bertanggung jawab serta terlibat secara aktif dalam proses penentuan nasib sendiri dan pelurusan sejarah," ucap para pendemo.
 
Reporter : Agung Widodo
Editor      : Ray Wiranata