Kaum Millennial Berpotensi Dongkrak Pariwisata Bali

No comment 37 views
banner 160x600

Women faceStaf ahli Kemenpar Prof. Dr. I Gde Pitana, MSc., (dua dari kiri). (ist)

Badung, faktabali.com - Gaya hidup kaum millennial bukan hanya kontoversial, tetapi juga anomali bagi perilaku pasar pariwisata Bali. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi khusus didalam kebijakan pengembangan kepariwisataan Bali agar bisa mendongkrak pendapatan daerah.
 
"Selain menjadi tantangan tersendiri bagi Pariwisata Bali, gaya hidup generasi millennial juga memberikan peluang yang sangat potensial bagi pengembangan pasar pariwisata. Potensi pariwisata kaum millenial perlu digarap serius," kata Prof. Dr. I Gde Pitana, MSc., staf ahli Kemenpar, dalam siaran pers, Jumat (9/11/2018).
 
Gede Pitana yang mewakili Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam pembukaan The Second Bali International Tourism Conference Millenial Tourism dengan tema “Creative Strategies Towards Sustainable Tourism Develompment in the Millennial Era” di Aula Fakultas Kedokteran Univ. Udayana kembali memaparkan sejumlah alasan kenapa kita perlu menggarap segmen kaum millennial.
 
Dikatakan, pada tahun 2020, diprediksi akan ada potensi 300 juta penduduk millennial China yang akan melakukan perjalanan wisata di seluruh dunia. Segmen pasar pariwisata millennial dalam 10 tahun kedepan akan mencapai 75 persen dari pasar global.
 
Pola pikir kaum millenial menyebabkan disrupsi di bidang perjalanan wisata, kaum milleinial mampu membuat perubahan dibidang teknologi di masyarakat dan berbagai ciri khas generasi millenial yang membutuhkan strategi dalam pemasaran pariwisata.
 
"Khusus Indonesia pada tahun 2020 akan memiliki penduduk millennial (usia15-34 tahun) mencapai 82 juta jiwa. Ini adalah potensi pasar pariwisata yang sangat besar. Angka ini menempati urutan ke-3 terbesar di Asia," paparnya.
 
Pitana menambahkan, generasi millennial memiliki karakter digital dan gaya hidup berteknologi, mereka berorientasi pengalaman, advocators, gemar berpetualang.
 
Wakil Gubernur Bali, Dr. Ir. Tjok Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si (Cok Ace) mewakili Gubernur Bali mengatakan, kontribusi hotel dan restoran mencapai 23 persen terhadap PDRB Bali. Angka tersebut belum termasuk sumbangan yang diperoleh dari daya tarik atau obyek wisata, fasilitas penunjang seperti spa, kesenian, water sport.
 
"Pertunjukan pada tahun 2017, jumlah turis asing yang datang ke Bali lebih dari 5 juta jiwa. Kedatangan wisatawan asing ke Bali mengalami peningkatan rata-rata 15 persen per tahun selama 10 tahun terakhir," kata Wagub.
 
Tjok Ace menambahkan, era millenial bukan saja bersifat kontroversial tetapi juga sebuah anomali terhadap upaya pengembangan pariwisata selama ini yang dikerjakan secara konvensional.
 
"Pariwisata budaya Bali dikembangkan berbasis masyarakat, sedangkan pariwisata millennial itu dikembangkan berbasis teknologi," ujarnya.
 
Berkaitan dengan pariwisata, ia merujuk hasil penelitian Universitas Indonesia yang mendapatkan bahwa ada pergeseran karakteristik dari knowledge to exprerinces (dari pengetahuan ke pengalaman). Oleh karena itu, gaya hidup millennial yang gemar mengalami sendiri merupakan potensi yang perlu digarap secara serius dalam kebijakan pengembangan kepariwistaan Bali.
 
Sementara itu Chairman of Organizing Committee, Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc, Ph.D dalam laporannya mengaku sangat bangga dengan tingginya partisipasi semua pihak dalam seminar pariwisata internasional tersebut.
 
"Kami bangga dengan tingginya partisipasi para pakar pariwisata dalam seminar ini. Kita akan membahas lebih dari 75 presentasi di dalam seminar ini, baik dari narasumber dalam maupun luar negeri. Saya juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran keynote speaker Dr. Chris Bottril yang juga Chairperson PATA Board Member yang datang jauh dari Canada," ungkapnya.
 
Agung Suryawan juga sangat mengapresiasi kehadiran para pembicara undangan seperti Prof. Noel Scott Griffith University, Prof. Xu Honggang of Sun Yat Sen Unioversity, Prof. Dr. IKG Bendesa from Udayana University, dan Mr. Oliver Libutzki – Associate Vice President of Agoda.
 
"Saya berharap seminar dapat mensharing hal-hal yang bermanfaat bagi strategi  pengembangan kepariwisataan Bali dan Indonesia. Melalui Tjok Ace kami juga berharap Pemprov Bali memberikan dukungan terhadap riset-riset pariwisata sehingga akan memberikan data yang akurat bagi pengembangan pariwisata Bali," tuturnya.
 
Konferensi internasional ini berlangsung selama 3 hari dari, 8-10 Nopember 2018. Hasil-hasil dari konferensi ini akan disampaikan kepada pemerintah dan berbagai stakeholders pariwisata.
 
Editor : Ray Wiranata