Perajin Gerabah Khas Lombok Menjerit, Penjualan Menurun 30 Persen



banner 160x600
Women face

Mataram, faktabali.com - Peristiwa Bom Bali I terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Namun hingga saat ini dampak dari peristiwa tersebut masih terasa mengganggu bagi perekonomian di Bali dan juga daerah lain seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti yang dikatakan Haeniatun (38). Perajin tanah liat, di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, ini mengatakan akibat Bom Bali I, usaha kerajinan milik keluargnya mengalami penurunan omset sampai dengan 30 persen.
 
"Malah yang lebih parah awal-awal setelah Bom. Omset kami menurun hingga 50 persen. Sekarang lebih baik, tapi orderan berkurang tidak seperti dulu-dulu," terangnya saat di temui, Kamis (5/10/2017).
 
Sebelum peristiwa Bom Bali I, Haeniatun mengaku pesanan dari luar negeri seperti Australia, Italia, Belanda, Prancis, dan Spanyol berjalan lancar. Sekarang yang tersisa hanya satu tamu tetap yaitu dari Spanyol.
 
"Pesanan berkurang tapi penjualan harian rutin. Untuk omset kami per bulan sekitar Rp 50 juta," ucapnya.
 
Mengenai harga, usaha kerajinan yang berdiri sejak tahun 1993 ini mematok harga bervariasi. Dari yang paling murah Rp 10 ribu, dan yang paling mahal seharga Rp 3 juta.
 
"Seperti asbak kecil itu harganya Rp 10 ribu. Kalau yang paling mahal gentong besar, harganya mencapai Rp 3 juta karena ada variasi rotan di bagian atas," jelasnya.
 
Haeniatun menerangkan, bahan baku tanah liat yang dipergunakan tidak bisa sembarangan, dan hanya bisa diperoleh dari Gunung Sasak, yang letaknya 24 kilometer dari desanya.
 
"Bahan bakunya pilihan, tapi kalau desain bebas, bisa dari tamu atau dari kami. Disini juga banyak model, ada ratusan item," terangnya.
 
Reporter : Agung Widodo
Editor      : Ray Wiranata