
Badung – faktabali.com
Pengelola kawasan pariwisata The Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, memastikan pasokan air bersih tetap aman selama musim kemarau melalui dukungan PDAM dan fasilitas pengolahan air laut milik ITDC Nusantara Utilities (INU). Ketersediaan air tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan operasional hotel dan tenant sekaligus menjaga kelestarian serta keindahan lingkungan kawasan.
General Manager Kawasan The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menjelaskan bahwa kawasan tersebut telah memiliki fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yaitu teknologi yang mengolah air laut menjadi air bersih. Fasilitas yang dioperasikan INU itu menjadi salah satu sumber pasokan air untuk mendukung aktivitas usaha di kawasan pariwisata tersebut.
“Jadi, sebetulnya secara teknis, itu aman. Karena di samping pengolahan limbah untuk air irigasi, air bersihnya pun itu ada pasokan dari SWRO-nya ITDC Nusantara Utilities,” ungkap I Made Agus Dwiatmika, Minggu (11/10/2026).
Ia mengatakan, pasokan air dari PDAM tetap dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem penyediaan air. Apabila pasokan PDAM mengalami kekurangan, kebutuhan air dapat dipenuhi melalui INU. Dengan dukungan dua sumber tersebut, pengelola berupaya menjaga kelancaran operasional kawasan selama periode kemarau.
Menurutnya, cuaca panas berpotensi meningkatkan kebutuhan air untuk penyiraman tanaman. Kondisi tersebut menjadi perhatian pengelola karena pemeliharaan vegetasi diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan dan estetika kawasan. Sementara itu, hujan diperkirakan baru turun pada awal Desember sehingga pengelolaan ketersediaan air perlu dilakukan secara optimal.
INU disebut mampu memproduksi air hingga 4.000 meter kubik, dengan kapasitas maksimal mencapai 10.000 meter kubik. Kebutuhan aktual air di kawasan The Nusa Dua turut dipengaruhi tingkat okupansi hotel dan tenant.
Pada Oktober, tingkat okupansi mengalami penurunan setelah periode puncak kunjungan berlalu. Meski demikian, tingkat keterisian masih berada di atas 70 persen, dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai kisaran 80 persen. Okupansi diperkirakan kembali meningkat menjelang akhir November hingga pertengahan Desember, yang berpotensi memengaruhi kebutuhan air.
Selain menggunakan pasokan PDAM dan SWRO, sebagian tenant masih memanfaatkan air tanah berdasarkan izin pemerintah. Pengelola mendorong agar izin penggunaan air tanah tidak diperpanjang karena alternatif pasokan air melalui PDAM dan INU telah tersedia.
“Karena secara teknis kami sudah bisa menyediakan melalui INU selain PDAM,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian tenant masih memiliki kekhawatiran mengenai kemampuan PDAM dalam memenuhi kebutuhan air. Karena itu, keberadaan SWRO diharapkan dapat memberikan alternatif pasokan yang mendukung kegiatan usaha di kawasan tersebut.
“Jadi, sebetulnya secara teknis itu ada tiga sumber buat tenant-tenant. Tapi kami mendorong hanya menggunakan dua sumber, yakni PDAM dan ITDC-NU dengan SWRO,” tutupnya.