20
September
2026
Minggu - :

Bale Tudor Badung, Perpaduan Arsitektur Tudor dan Alam Bali

Redaktur
13/09/2026 pada Pariwisata
Bale Tudor
Bale Tudor berdiri di kawasan Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.

Badung – faktabali.com

Bale Tudor di Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, berkembang dari hunian pribadi menjadi ruang terbuka yang memadukan arsitektur bergaya Tudor, lingkungan alam, kreativitas, dan rekreasi. Bangunan yang berada di tepi sungai tersebut dibuka untuk masyarakat sejak Juni 2025 dengan konsep kunjungan berbasis reservasi atau RSVP.

Bale Tudor berlokasi di Jalan Dewi Tilotama, Banjar Tegal Kuning, Bongkasa Pertiwi. Tempat itu awalnya dibangun Peni Cameron sebagai hunian pribadi. Seiring waktu, pemiliknya memilih membuka kawasan tersebut agar dapat dinikmati dan menjadi ruang berbagi bagi masyarakat.

Peni Cameron, perempuan kelahiran Surabaya, mengatakan ide membangun tempat tersebut berawal dari keinginannya memiliki rumah di Bali untuk berlibur sekaligus berbagi kegiatan dengan masyarakat.

“Sebetulnya kita mau pensiun gak mau dari dulu punya lahan dibali karena kalau punya lahan dibali kita akan liburan kemana, karena setiap tahun kita bisa dua kali ke bali, Saya suka ya, kita ngapain ya di Jakarta? Kita senang sharing, senang ngajar, senang komunitas kan. Akhirnya cari-cari nemulah, dicariin lah, kok dapat tempat yang sedemikian indahnya di pinggir sungai. Itu udah impian banget tuh, impian semua orang kurasa ya,” ujar Peni.

Pembangunan Bale Tudor dimulai pada 2013. Konsep bangunan bergaya Tudor dipilih karena memiliki kaitan dengan pengalaman keluarga Peni. Almarhum suaminya pernah tinggal di rumah Tudor milik neneknya ketika masih kecil. Kenangan tersebut kemudian menjadi inspirasi untuk memadukan gaya Tudor dengan karakter budaya dan lingkungan Bali.

Rumah pohon yang menghadirkan nuansa alami di Bale Tudor.

“Karena almarhum suami dulu itu memang dia waktu kecil, dia tinggal di rumah Tudor neneknya. Jadi waktu pindah kesini, aku bikin lah mix culture Bali Tudor. Karena Tudor itu asalnya memang dari Old England ya,” katanya.

Dalam proses pembangunan, Peni juga mempertahankan kontur asli lahan yang sebelumnya merupakan tegalan. Permukaan tanah yang bertingkat tidak seluruhnya diratakan sehingga karakter alami kawasan tetap terlihat di sekitar bangunan.

“Dulu kan memang ini tegalan. Iya betul. Nah terus di rumah itu juga ada yang di bawah, ada yang di atas. Jadi kontur itu nggak banyak yang aku ratain. Ini aja kebetulan segini rata. Tapi yang ini naik-naik. Ini kontur asli. Jadi kontur aku nggak terlalu apa, atur gitu loh. Di papras itu nggak, kontur asli,” jelasnya.

Setelah bertahun-tahun menjadi hunian, Bale Tudor mulai dibuka dengan konsep baru pada Juni 2025. Pengunjung dapat menikmati bangunan dan lingkungan sekitar, berfoto, mengenakan kostum, menikmati makanan, serta mengikuti berbagai kegiatan kreatif. Sistem reservasi diterapkan untuk mengatur kunjungan.

Peni mengatakan pembukaan Bale Tudor ditujukan agar masyarakat dapat menikmati keindahan rumah dan alam tanpa harus mengeluarkan biaya seperti ketika berkunjung ke destinasi atau hotel mewah.

Peni Cameron Sejenak menikmati sudut indah Bale Tudor.

“Aku sih pengen, sebetulnya lebih pengen share keindahan alam sama rumah ini. Pada masyarakat. Makanya affordable lah gitu ya. Nggak terlalu mahal,” ujarnya.

Selain rekreasi, Bale Tudor diarahkan sebagai ruang edukasi arsitektur. Peni menilai arsitektur menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman seseorang ketika bepergian, berdampingan dengan daya tarik alam.

“Lebih ke edukasi. Ini kan arsitektur ya. Sebetulnya orang kenapa ke Paris? Karena ada Eiffel. Kenapa ada Menara Pisa ada Piramid. Kan sebenarnya arsitekturnya ya. Orang kan, kita jalan-jalan kan sebenarnya alam dan arsitektur,” tuturnya.

Konsep tersebut terus dikembangkan melalui penggunaan sejumlah material, termasuk kayu ulin, serta penyediaan properti, kostum, kegiatan kreatif, dan acara bertema fantasi. Bale Tudor kini diarahkan menjadi creativity house dan fantasy park.

Pengelolaan dilakukan bersama anak Peni, Kasandra, yang menangani manajemen, sementara Peni lebih banyak berfokus pada properti dan kebutuhan kreatif. Bagi Peni, Bale Tudor tidak hanya menjadi bangunan, tetapi juga ruang untuk berkarya dan berbagi.

“Rumah ini itu dibangun dengan with love. Jadi, banyak katanya orang kalau masuk tuh kerasa banget ya suasana love-nya. Ya, karena dibangun pakai cinta ya. Jadi, basic-nya tuh pengen sharing aja,” ungkap Peni.

Ia pun menilai kreativitas dapat terus berkembang selama seseorang berani mencoba. Prinsip tersebut menjadi bagian dari semangat pengembangan Bale Tudor.

“Nggak tau, bener nggak sih? So, apapun coba aja. Nggak bisa, ya coba dulu. Kalau udah coba pasti bisa,” pungkasnya.(MFB)

Disalin
Copyright © 2026 Fakta Bali
MENU