
Gianyar – faktabali.com
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mendorong desainer Bali untuk terus mengembangkan karya berbasis kain tenun tradisional agar semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional. Dorongan tersebut disampaikan saat menghadiri Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 di Tuksedo Studio, Gianyar, Sabtu 19 September 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan kreativitas di bidang otomotif dan fesyen dalam satu panggung. Peragaan busana yang digelar turut menampilkan karya desainer dengan memanfaatkan kain tenun endek Bali dan sejumlah kain berciri khas Bali lainnya.
Ny. Putri Koster mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang dinilai memberikan ruang bagi desainer dan pelaku industri kreatif untuk mengembangkan karya. Ia berharap agenda semacam itu dapat digelar secara konsisten dan berkelanjutan sehingga ekosistem fesyen di Bali semakin kuat.
Menurutnya, pengembangan industri fesyen perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga serta mengangkat kain tenun tradisional sebagai bagian dari identitas budaya Bali. Selain memiliki nilai budaya, pemanfaatan kain tradisional juga dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi produk kreatif.
“Teruslah digaungkan, angkat juga kearifan tenun tradisional kita, hingga suatu saat Bali tidak hanya terkenal karena tariannya, tidak hanya terkenal dengan tembangnya, tetapi suatu saat nanti Bali bisa menjadi kiblat mode dunia selain negara-negara di Eropa,” ujar Ny. Putri Koster.
Ia mengatakan pengembangan fesyen Bali membutuhkan proses panjang, konsistensi, serta dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, karya desainer dan produk berbasis kain tradisional membutuhkan ruang promosi yang lebih luas agar mampu menjangkau pasar nasional maupun internasional.
Ny. Putri Koster kemudian mencontohkan kiprah desainer Bali, Nyoman Adi, melalui TAKSU yang telah memperoleh kesempatan memperkenalkan karya dalam agenda fesyen di luar negeri, termasuk Paris dan Jepang. Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa karya desainer Bali dan kain tradisional memiliki peluang untuk mendapat perhatian di panggung internasional.
Karena itu, ia berharap kegiatan seperti Tuksedo Auto and Fashion Gala dapat mendorong lahirnya lebih banyak desainer dari Bali yang mampu berinovasi dengan tetap berangkat dari kekayaan budaya lokal.
“Semoga dari acara ini akan bangkit desainer-desainer Bali lainnya,” harapnya.
Sementara itu, CEO Tuksedo Studio, Pudji Handoko, menyampaikan bahwa Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 juga menjadi momentum peluncuran First Lady. Kendaraan tersebut dirancang di Bali dengan konsep yang terinspirasi mobil klasik era 1930-an dan pengaruh gaya Art Deco.
Peluncuran kendaraan itu dipadukan dengan peragaan busana yang menampilkan karya desainer menggunakan kain tenun endek Bali serta kain berciri khas Bali lainnya. Perpaduan otomotif dan fesyen tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kreativitas lintas bidang dalam satu panggung.
Melalui dukungan terhadap ruang kreativitas tersebut, Dekranasda Provinsi Bali mendorong pemanfaatan budaya lokal dan kain tradisional dalam pengembangan industri kreatif. Upaya ini sekaligus membuka ruang bagi perajin dan desainer untuk meningkatkan nilai tambah serta daya saing karya Bali.(MFB)