12
Oktober
2026
Senin - :

Peringatan 24 Tahun Bom Bali, Badung Gaungkan Pesan Perdamaian dan Toleransi

Redaktur
12/10/2026 pada Daerah
Peringatan 24 tahun tragedi Bom Bali melalui doa bersama lintas agama di Monumen Ground Zero Kuta.
Doa bersama lintas agama memperingati 24 tahun tragedi Bom Bali di Monumen Ground Zero, Kuta, Badung, 12 Oktober 2026.

Badung – faktabali.com

Pemerintah Kabupaten Badung menggaungkan pesan perdamaian, toleransi, dan persatuan dalam peringatan 24 tahun tragedi Bom Bali melalui doa bersama lintas agama di Monumen Ground Zero, Jalan Legian, Kuta, Senin, 12 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut digelar untuk mengenang para korban tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002 dan peristiwa bom pada 1 Oktober 2005. Peringatan ini dihadiri perwakilan konsulat jenderal dan negara sahabat, anggota DPD RI, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), penyintas, serta keluarga korban.

Mewakili Bupati Badung, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Dr. I Wayan Wijana, mengatakan kedua tragedi tersebut meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Bali, Indonesia, dan dunia internasional.

Menurut Wijana, doa bersama ini menjadi bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan, menjaga kerukunan, dan merawat perdamaian. Kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuka kembali luka lama, melainkan meneguhkan harapan akan kehidupan yang harmonis.

“Sebagai bentuk penghormatan dan mengenang peristiwa tersebut, Pemkab Badung sedang membangun Museum Perdamaian Bali. Mudah-mudahan tahun ini bisa diselesaikan,” ujar Wijana.

Ia menegaskan, tragedi Bom Bali menjadi pengingat bahwa terorisme, radikalisme, dan intoleransi merupakan ancaman bersama yang harus dihadapi seluruh elemen masyarakat. Nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan, menurutnya, perlu terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan di Bali. Dengan filosofi Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi, kita buktikan bahwa perbedaan adalah kekuatan,” tegasnya.

Wijana juga menyampaikan pesan kepada masyarakat internasional bahwa Bali tetap terbuka bagi semua orang dengan semangat keamanan dan kedamaian. Ia mengajak masyarakat memperkuat peran desa adat, pecalang, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam menjaga keharmonisan. Pendidikan toleransi bagi generasi muda juga dinilai penting agar nilai perdamaian dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Masyarakat diharapkan ikut menjaga pariwisata Bali agar tetap berbudaya, aman, dan berkeadaban. Menjaga perdamaian bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat,” terang Wijana.

Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Badung, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, S.Sos., mengatakan tragedi Bom Bali menjadi pengingat pentingnya persatuan, toleransi, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan di tengah keberagaman.

“Kegiatan ini juga bertujuan mendoakan para korban agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, memberikan kekuatan moral kepada keluarga yang ditinggalkan, serta mempererat silaturahmi antarumat beragama,” ucap Mas Arimbawa.

Ia berharap peringatan tersebut dapat memperkuat kepedulian antarsesama dan menjaga persatuan masyarakat.

“Tragedi masa lalu menjadi pengingat bahwa persatuan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian antarsesama merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Bali yang aman dan damai,” tutup Mas Arimbawa.(MFB)

Disalin
Copyright © 2026 Fakta Bali
MENU